Episode~8

Saturday, January 19, 2008

Allah SWT menganugerahi manusia dengan rasa cinta sebagai hikmah dan ujian. Naluri untuk mencintai akan selalu tumbuh dalam diri seseorang. Nantinya seperti apa, bergantung pada apa yang kita lakukan ketika menyikapi rasa cinta itu. Membawanya ke dunia nyata, memupuknya dengan ibadah, menyiramnya dengan rasa takwa, hingga berbunga dan mekar seindah bunga mawar, atau membawanya ke dunia semu yang bias, tanpa jelas apa yang akan kita tuai nantinya.

Adhit menutup catatan harian Tito yang kebetulan tampil di layar monitor komputer. Ketika Adhit datang, Tito lupa menutup diarynya hingga terbaca oleh Adhit.

Kre..k. Tiba – tiba pintu bergeser.

“Akhi, ntar sore jadi ke rumahnya Ihsan kan?” Tito masuk membawa talenan dengan dua piring kecil Blackforest dan dua coklat panas di atasnya tanpa sadar kalo Adhit baru saja membaca diarynya.

“Eh, eh, iya.” Buru – buru Adhit menutup aplikasi diarynya Tito.

“Napa akh?”

“Nggak. Oya, lu dah beli kado belum?” tanya Adhit mengalihkan perhatian.

“Belum sih, cuman kemaren ane dah beli buku ini,” Tito mengeluarkan sebuah buku bercover biru dari dalam tasnya.

“Diary pengantin?” Adhit mendesis.

Adhit diam sejenak.

“To, kok Ihsan mau ya nikah di usia muda? Kan banyak resikonya. Apalagi belum kenal lama sama calon istrinya,” tanya Adhit.

Tito menghela nafas.

“Akhi, nikah itu sunnah rasul sekaligus juga bernilai ibadah. Kalo udah mampu, kenapa harus ditunda – tunda? Dari pada ntar zina.”

“Ehm. Iya juga sih. Tapi, Ihsan kan baru semester dua. Calonnya aja masih SMA. Nggak takut fitnah?”

“Justru hal ini untuk menghindari fitnah.”

“Bukan. Maksud gue, ntar banyak yang beranggapan macam – macam. Sekarang kan banyak yang nikah dini gara – gara MBA alias kecolongan duluan. Kalo ada yang kayak gitu gimana?”

“Yah. Terserah pandangan orangnya. Berhusnuzhon khan lebih baek. Kalo emang ada yang seperti itu, mudah – mudah Allah membuka pintu hati mereka.”

Adhit diam merenungkan kata – kata sobatnya itu.

“Ok, dah siap belum. Kita mau kemana cari kadonya?” tanya Tito kemudian.

“Ke Lie Cheng aja?” jawab Adhit sekenanya.

“Hah?!” Tito bingung.

“Ha..ha..ha..,” Adhit tertawa lebar. “Becanda, To. Tapi nggak masalah juga kan ngasih kado obat kuat buat pengantin baru.”

“Astaghfirullah. Ada – ada aja.” Tito mesem – mesem.

Adhit dan Tito sudah tiba di butik Mas Eddy, langganan ibunya Adhit, tak jauh dari BTC, mal terbesar di Pangkalpinang. Adhit memilih satu setel baju koko atau lebih ngetop dengan nama Teluk Belango. Sebuah sajadah, dan sandal seukuran kakinya, karena Adhit yakin kalo ukuran kakinya dan kaki Ihsan tak jauh beda.

“Buat siapa, Dhit?” tanya mas Eddy melihat Adhit yang jarang sekali belanja perlengkapan muslim karena hapal betul seleranya.

“Kado buat temen, Mas. Nikah hari ini.”

“O..kirain buat Adhit sendiri. Kan, jarang banget Adhit belanja baju koko. Bahkan menurut mas malah nggak pernah.”

“He..he...he.. Mas Eddy tau aja.” Adhit tersenyum lebar. “Sekalian di bungkusin deh mas.

Setelah membayar dengan kartu debit Bank Sumselnya, Adhit dan Tito meninggalkan butik mas Eddy menuju kediaman orang tuanya Ayu, calon mertua Ihsan.

Sekitar sepuluh menit, akhirnya mereka berdua tiba di Masjid An’Nur, tempat akad nikah Ihsan dan Ayu dilaksanakan, setelah ditelepon oleh Fariz bahwa rombongan calon pengantin dah menuju tempat akad.

Suasana disana lumayan ramai. Keluarga kedua calon mempelai, teman – teman Ihsan satu fakultas, teman – teman Ayu yang lumayan bikin Fais dan Adhit lupa dengan komitmen Ghadul Basharnya, juga Mas Hudha murobbi Adhit cs bersama istrinya.

“To, itu istrinya Mas Hudha?” tanya Adhit sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang digandeng murobbinya itu.

“Ya,” jawab Tito pendek.

“Wah, cantik banget. Pengen deh punya istri kayak gitu. Adel mau nggak ya.”

“Mulai ngelantur deh.”

Akad nikah berlangsung khidmat. Ayu menangis bahagia, begitu juga dengan teman – teman yang hadir. Banyak yang meneteskan air mata menahan haru ketika Ayu bersimpuh di kaki kedua orang tuanya, diikuti Ihsan yang disambut dengan pelukan dan tatapan ayah mertuanya seolah meminta Ihsan untuk membimbing putrinya menjadi istri yang shalehah.

Berganti Ihsan yang bersimpuh di kaki Ibunya. Air mata wanita tua itu tak terbendung melihat anak laki – lakinya semata wayang akan menapaki jalan baru, hidup bersama pendampingnya yang Insya Allah akan menjadi bidadari bagi anaknya di dunia dan di surga nanti. Makin haru ketika Ihsan memeluk Ibunda tercinta, memeluk orang tua yang gigih berjuang menghidupi keluarganya setelah suaminya, ayah Ihsan harus meninggal ketika almarhum sersan bintang tiga itu dikirim ke daerah konflik, Poso.

Tiba giliran undangan menyalami kedua mempelai. Tito memeluk erat sahabat yang telah membimbingnya ke jalan terang, mengajaknya untuk mengenal lebih dekat apa itu Islam. Adhit, Fais, Fariz, Koko, dan Mas Hudah tak lupa mengucapkan selamat dan berdoa untuk Ihsan dan Ayu agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

* * *

Adhit merebahkan tabuhnya di atas kasur. Menyalakan handphone yang dimatikannya sejak tiba di masjid An-Nur tadi sore.

Tiit..tiit..tii.. Satu buah pesam masuk ke hapenya.

Ass.

Adhit, ni astrie. Afwan ganggu trs ya.

Antrie cm pngn knln koq.

Oea, pkn dpn Oma pndh k Rmh bru.

Seklian ulang tahun, mo sykran ktnya.

Adhit dtng ya...

Episode~7

Assalamu’alaikum Adhit.

Dah Mandi blom?

Kok sms Trie g prnh dibls?

Satu pesan masuk sore ini di ponsel Adhit. Geram, kesal, sekaligus juga penasaran berkecamuk di dada Adhit. Karena nggak sabar lagi, akhirnya Adhit menelepon nomor yang sering menerornya itu.

Tut..tut..tut... Nggak diangkat sama sekali. Hingga tiga kali Adhit mencoba menghubungi nomor tersebut, tak pernah sekalipun disambut oleh penerimanya.

Beberapa menit kemudian malah satu sms masuk di ponsel Adhit.

Sorry, g ush telpon blk.

Aq cm pengen Adhit bls smsq.

Oea, Ktx Oma mo blk lsa ya?

Tiga baris pesan yang membuat hati Adhit berbinar – binar. Bukan karena cewek seberang yang menurut Adhit keganjenan, tapi pesan di baris yang terakhir yang menanyakan kalo Oma bakal pulang lusa nanti. Yah, walaupun baru sebatas pertanyaan, tapi Adhit merasakan lapang yang sebenar – benarnya.

“Yes!”

* * *

“Oma, mo balik ke Jakarta lusa ya?” tanya Adhit pas makan malam keluarga.

“Kenapa? Pengen ikutan?”

“Ih...amit- amit deh,” seru Adhit dalam hati sambil senyum manyun.

“Oya Dhit. Tadi Tito telepon, katanya jangan lupa besok sekitar jam empat ditunggu di rumahnya. Katanya mo pengajian. Bener?” tanya Mama.

Adhit mengangguk kencang karena emang nggak bisa ngomong. Soalnya, mulut Adhit masih penuh dengan nasi.

“Alhamdulillah. Cucu oma ikutan pengajian. Padahal, dulu paling alergi sama semua yang religi – religi gitu.” Oma bicara dengan nada senang. “Astrie juga suka ikutan pengajian lho, Dhit. Anaknya selain cantik, rajin, ramah sama semua orang, pandai bergaul, Rajin sholat juga. Pokoknya Te-O-Pe banget. Cocok buat Adhit.

Uhuk. Adhit tersedak. Kemudian buru – buru minum segelas air yang berada di hadapannya.

“Iya. Saking padai bergaulnya, ngirim sms nggak henti - hentinya ke Adhit. Emang, Adhit suka apa?” sekali lagi Adhit ngedumel dalem ati. Karena, nggak mungkin buat Adhit buat ngomong begitu sama orang tua terlebih Oma sendiri. Yah, sekesal – kesalnya Adhit sama oma, Adhit sangat menghormati dan tahu tata krama sama orang tua.

“Tuh, kan. Itu tandanya Adhit juga suka sama Astrie,” sambung omanya lagi setelah melihat Adhit tersedak ketika mendengar yang diucapkan sama oma sebelumnya.

“Apa – apaan sih?” akhirnya Adhit buka suara.

* * *

Adhit mengendarai sepeda motornya sambil mendengarkan nasyid dari walkman. Emang rada bahaya, sih. Tapi berhubung sekarang Adhit lagi seneng – senengnya karena hari ini halaqohnya yang kedua, Adhit tidak menghiraukan apa – apa. Hari ini juga, adhit nggak perlu ngejemput Tito. Pagi tadi, Adhit dapet informasi kalo Tito akan berangkat dengan Koko.

Sepuluh menit, Adhit akhirnya tiba di masjid Al – Istighna, tempat pengganti setelah Mas Hudha memberi kabar bahwa beliau nggak bisa ngisi hari ini. Masjid ini sengaja dipilih dengan alasan sebagai tempat dengan akses teradil dari semua mutarobbi, nggak jauh dari rumah semuanya.

Diskusi bertema tawazun dan berpikir besar yang dilakukan oleh Tito dan teman – temannya, alot juga. Banyak perdebatan, dan pendapat – pendapat tentang hubungan antara berpikir besar dan konsep keseimbangan dalam hidup terutama ketika menentukan serta menetapkan suatu pilihan.

Tak lupa pula penyampaian permasalahan pribadi untuk dibahas bersama – sama.

“Guyz, gue lagi punya masalah besar neh. Sorry, To. Kemaren, gue belum sempet cerita ke lu. Gue pengen semuanya tau, dan ngasih pendapatnya ke gue. Kan, kalo bareng – bareng, masalahnya bisa cepet selesai,” Adhit membuka qhodoya kali ini.

“Tafadhol Akhi,” Ihsan sang mas’ul mempersilahkan.

“Gue dijodohin...”

Semua terdiam.

“Lho, kok malah diam sih? Gue kan pengen lu semua ngasih masukan ke gue. Menurut lu gimana Is?” tanya Adhit pada Fais.

“Ehm. Gimana ya? Oya, dijodohin buat nikah, gitu?” Fais malah balik nanya.

“Ya iyalah. Emang ada orang yang dijodohin buat temenan?” ledek Fariz.

“Sapa tau?” Fais ngeles.

“Udah, udah. Kayaknya nggak penting banget buat dibahas. Ini masalah serius akhi,” akhirnya Koko yang pendiam buka suara juga.

“Antum sendiri gimana Dhit?” tanya Tito.

“Gue?” Adhit sedikit ragu. “Ya, gue sendiri sih amat belom siap buat tunangan. Apalagi nikah. Mo dikasih makan apa anak istri gue. Gue juga nggak kepikiran buat nikah di usia muda gini. Lagian juga, gue belom kenal sama tuh cewek.”

“Eh, ngomong – ngomong tuh cewek cantik nggak?” tanya Fais.

“Fais! Udah deh. Nggak penting banget lagi!,” Fariz melototi Fais yang emang rada jayus.

“Gue nggak tau tampangnya kayak gimana,” Adhit nanggepin juga. “Tapi, menurut gue tuh cewek keganjenan. Sering banget kirim sms ke gue. Tapi, menurut oma, anaknya tajir, cantik, rajin juga, dan ikutan pengajian kayak gini.”

“Wah wah wah. Boleh banget tuh Dhit,” tiba – tiba saja Fais motong pembicaraan lagi.

Semua mata tertuju pada Fais. Terlebih matanya Fariz yang bener – bener mirip elang yang mo mangsa anak ayam.

“Iya, iya. Ane kan cuma becanda,” Fais tertunduk diam akhirnya.

“Antum bilang dia ikut pengajian seperti ini juga?” tanya Ihsan sedikit heran.

Adhit mengangguk mengiyakan.

“Tapi kalo suka ngirim sms nggak perlu ke Adhit, patut dipertanyakan tuh, tarbiyahnya dia,” sambung Tito.

“Gue juga nggak ngerti ngapain tuh cewek ngabis – ngabisin pulsa buat sms. Bikin gue kesel juga sih. Capek! Pas gue telepon malah nggak diangkat.”

“Nggak usah ditanggepin, akhi. Tar juga bosen sendiri. Trus, antum dah pernah bales sms sidia?” tanya Fariz.

Adhit menggeleng.

“Tapi, gue pernah nyoba nelpon. Cuman nggak pernah diangkat.”

Qhodoya hari ini cuma ngebahas permasalahan Adhit seorang. Banyak masukan yang didapat dari teman – temannya satu halaqoh. Mulai dari saran untuk nggak usah nanggepin sms – sms yang masuk ke ponsel Adhit, atau bahkan sarannya Koko untuk langsung menghapus sms tersebut tanpa membacanya yang lansung ditentang sama Fais. Sayang, kalo nggak dibaca. Mubazir pulsanya, menurut ikhwan yang suka bercanda ini. Sampe pada saran untuk di audiensikan lagi bersama Mas hudha yang kebetulan udah nikah. So, pasti punya pengalaman lebih soal cinta.

* * *

“Dhit, udah siap belom?” teriak mama dari luar kamar.

“Iya, ma. Bentar lagi. Tunggu dibawah aja. Adhit lagi pake celana nih,” teriak Adhit juga.

“Buruan, sayang. Tiga puluh menit lagi, pesawat yang akan ditumpangi Oma berangkat.”

“Eh, iya.” Seru Adhit. “Ih, gue mesti cepetan. Masa Oma harus ketinggalan pesawat. Bisa berabe,” sambung Adhit dalam hati.

Hari ini Oma akan balik ke Tangerang. Adhit sebenarnya enggan nganterin Oma ke bandara. Malu sama satpamnya. Kan, pas Oma dateng ke Bangka kemaren sempet bikin masalah di bandara.

Kalo mama sama papa nggak maksa buat ikut, Adhit nggak bakal ikut – ikutan sibuk ngurus kepulangan Oma. Nyiapin koper, beliin tiket, sampai nemenin Oma beli baju di Butik Mas Eddy. Yang bikin Adhit kesel juga, ketika Oma minta Adhit beliin baju buat Astrie. Sempet adu mulut juga.

“Ih, kan Adhit belom kenal sama tuh cewek. Ngapain Adhit beli – beliin baju buat dia?” sungut Adhit.

“Lho, kemaren kan Adhit dikasih koko sama Astrie. Moso Adhit nggak ngasih apa – apa buat dia.”

“Adhit nggak minta kok. Dianya aja yang sok kenal gitu. Sok deket juga, pake ngasih koko segala.”

“Udah, le. Apa susahnya. Tinggal beli sepotong baju ini. Kan, nggak nguras tabungan Adhit banyak,” seru mama di telepon.

Oma akhirnya ngeluarin jurus mautnya untuk meminta mama yang ngomong langsung ke Adhit untuk beliin baju buat Astrie. Dengan sedikit terpaksa, akhirnya Adhit mengalah dan membelikan satu buah gamis plus jilbabnya.

Adhit berlari menuruni tangga.

“Ok, ma. Sekarang Adhit siap berangkat. Oma udah di mobil?” tanya Adhit.

“Udah. Yuk buruan masuk ke mobil. Kasian Oma, ntar ketinggalan pesawat.”

Perjalanan menuju bandara terbilang sepi. Oma sedari tadi hanya diam. Mama sibuk ngejawab hanphonenya yang terus berbunyi. Papa juga serius nyetir. Sedangkan Adhit ikutan sibuk ngedengerin nasyid dari MP3 playernya.

Namun, melihat omanya yang hanya diam. Adhit nggak tega juga.

“Oma, jangan sedih gitu dong. Kapan aja bisa ke Bangka lagi,” bujuk Adhit.

“Iya, ma. Kok sedih gitu,” mama jadi ikut – ikutan iba melihat Oma yang sedari tadi cuma diam saja.

“Oma sedih karena harus ninggelin Adhit ya?” tanya Adhit sedikit jayus.

Oma menggeleng.

“Trus napa?” tanya Adhit lagi.

“Oma sedih. Dua minggu oma di Bangka tapi nggak sekalipun oma maen – maen ke pantai. Kan oma, pengen banget,” akhirnya oma buka suara juga.

Gubrak!!

“Kirain apa!” teriak Adhit yang tentu dalam hati lagi.

“Maaf ma. Dewi sering nggak bisa nemenin mama,” mama sedikit menyesal.

“Adhit juga oma. Adhit sering nggak dirumah. Jarang nemenin Oma. Oya, tadi Adhit udah telepon Yudhis supaya ngejemput Oma nanti di Cengkareng.”

Lima belas menit, akhirnya mobil yang dikendarai papa sampai di Bandara Depati Amir Pangkapinang. Perpisahan dengan oma begitu mengharukan buat Adhit. Padahal, sebelumnya Adhit seneng banget Oma pulang hari ini. Tapi sekarang, seperti ada yang mengganjal di hati Adhit.

“Oma, oleh – oleh buat Astrie dibawa khan?” tiba – tiba saja Adhit ngomong yang bikin dia heran juga. Entah karena pengen bikin Oma seneng atau .....

Oma tersenyum sebelum akhirnya keluar dari pintu terminal keberangkatan menuju pesawat Sriwijaya Air yang akan menerbangkannya ke Jakarta.

“Halo,” Adhit menelpon Yudhis.

“Assalamu’alaikum Mas Adhit. Gimana kabarnya?” sahut Yudhis.

“Alaikum salam. Alhamdulillah, baek. Oma udah naek pesawat sekarang. Lu lagi dimana?”

“Yudhis masih di jalan, sekitaran Kalideres. Yah setengah jam lagi Insya Allah nyampe Bandara.”

“Bareng siapa?”

Teh Astrie.”

“Eh, hati – hati lho. Jangan berkhalwat? Cuman bedua?”

“Nggak kok. Ada Ummi dan Abi juga.”

“Ha!! Ubi? Buat apaan?”

“Astagfirullah. Mas Adhit gimana? Ummi sama Abi.”

“O..Om sama Tante. Salam ya, dari Adhit.”

“Insya Allah.”

“Udahan yah. Jangan lupa Oma disamperin di terminal kedatangan. Ntar kayak disini lagi. Salah naek mobil.”

“Mudah – mudahan nggak. Ya udah Mas. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Episode ~ 6

Thursday, March 22, 2007

“Oh God! Lu ikutan pengajian? Keren banget. Dan gue rasa lu makin bisa narik perhatian Tito. Setelah Tito tunduk ama lu, saatnya Adel yang dibikin nurut,” Benny lumayan kaget ketia Adhit cerita kalo dia ikut bersama Tito di pengajian.

“Maksud, Lu?” Adhit heran.

“Balik ke tujuan awal, Adhit. Lu pengen macarin Adel kan? Nah, setelah sukses nalukin Tito, yang sekarang bisa dianggap sebagai bodyguardnya Adel, lu bisa bebas macarin Adel tanpa takut Tito bakal ngapa – ngapain ke elu.”

“Udah?” tanya Adhit sinis.

“Kok lu mo marah marah sama gue Dhit?”

“Omongan lu tuh nggak lu pikir dulu. Gue capek! Gue lagi banyak masalah. Nggak usah nambah beban. Lagian, bahas – bahas pacaran. Gue bete banget!” Adhit marah juga akhirnya.

“Dhit! Kok lu malah kepengaruh sama Tito. Gue bilangin! Lu nggak usah munafik. Tujuan lu ngedeketin Tito bukan buat lu ikut – ikutan Tito. Sekali lagi gue ingetin. Gue nih temen lu dari kecil Dhit. Gue pengen bantu lu, tapi lu malah marah – marah ke gue.”

“Sorry Ben. Kayaknya gue nggak mau debat ama lu. Please, tinggelin gue. Gue lagi pengen sendiri.”

“Terserah lu. Gue cuman pengen bantu.”

Benny keluar dari kelasnya Adhit dengan wajah kusut dan berpapasan dengan Tito yang kebetulan baru datang.

“Benny napa Dhit?” tanya Tito yang kemudian duduk di sebelah Adhit. “antum berantem?”

Adhit hanya diam.

“Dhit, antum lagi punya masalah? Cerita donk. Biar ane bisa bantu nyelesain.”

Adhit masih diam.

“Gimana? Ok, kalo emang belom pengen cerita. Antum bisa cerita ke ane kapan – kapan. Besok, lusa, atau bulan depan, ane siap nampung kok. Atau antum bisa qhodoya sama Mas Huda. Curhat gitu. Insya Allah beliau lebih bijak nanggepin permasalahan yang sering terjadi sama remaja.”

“To, jujur kalo sebenernya gue naksir berat sama Adel. Sampe – sampe gue pengen macarin Adel. Sekarang gue bener – bener punya masalah yang menurut gue lumayan besar buat gue selesaikan. Tapi gue belum bisa cerita sekarang. Nggak apa – apa kan?” akhirnya Adhit buka suara.

“Ya udah. Ane siap nampung kapan aja kok.”

* * *

“Assalamu’alikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Adhit kaget bukan kepalang ketika Adel membukakan pintu rumah Tito.

“Titonya ada?” tanya Adhit tanpa menoleh ke Adelia.

“Adhit. Masuk yuk.” Ajak Tito yang baru keluar dari kamar mandi.

Adhit menuju ruang tamu namun kemudian menarik tangan Tito.

“Di kamar. Boleh kan ,To?”

Tito lumayan heran dengan sikap sobatnya ini, namun kemudian mengangguk pelan.

Mereka berdua berjalan menuju kamar Tito, kemudian Adhit menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.

“To, puterin nasyid donk.” Pinta Adhit.

Tito makin heran lagi. Walaupun tangannya kemudian meraih kaset nasyidnya Hard kemudian memutarnya di compo.

“Gue mo curhat sama lu, To. Gue pengen nagih janji lu. Lu siap kapan aja kan?”

Tito mengangguk pelan.

“Gue lagi punya masalah, seperti yang gue bilang sama lu tempo hari,” Adhit mulai bercerita. “Nggak tau kenapa, setelah gue ikut lu ke pengajian kemaren, gue ngerasa nemu jati diri gue yang sebenarnya. Malam itu juga gue nggak bisa tidur. Gue bingung, risau, dan.... nggak bisa gue lukiskan sama kata – kata. Gue inget ketika lu ngomong kalo kita mesti menghargai waktu kita yang masih lowong, bukan buat hal – hal yang nggak penting yang malah bikin kita jauh dari Tuhan.”

Adhit berdiri kemudian duduk di dekat jendela. Matanya memandang keluar terlihat sendu.

“Dulu, gue ngerasa paling hebat. Gue bisa ngelakuin apa aja. Tapi syukur, gue nggak sampe ikut – ikutan temen nyicip narkoba. Kehidupan kelam gue jalani. Gue nggak peduli orang mo ngomong apa tentang gue. Sampai, gue ketemu Adel. Cewek yang bisa bikin gue dan pandangan gue tentang hidup berubah. Yah, walaupun sebelumnya gue emang udah mulai ngerasa kalo gue mesti berubah. Gue pengen seperti temen – temen yang laen, dicintai, dikasihi. Gue jadi sering lihat program – program TV tentang cinta, baca cerita cinta. Dan Adel, cinta pertama gue.”

“Gue bener – bener jatuh cinta, dan pengen banget Adel jadi pacar gue. Gue siap ngelakuin apa aja buat ngedapetin Adel. Salah satunya dengan narik perhatian elo,” Adhit menoleh pada Tito. “Lu nggak marah kan To?”

Tito menggeleng.

“Tapi, Tuhan bener – bener sayang pada gue. Dia ngingetin gue, kalo hidup gue di dunia cuma sementara. Kalo gue mesti mengisi hari – hari gue yang nggak sebentar di dunia ini dengan sesuatu yang lebih bermakna hingga gue memahami artinya hidup, buat beribadah padaNya.”

“Ehm.... udah siap jadi kiai neeh,” Tito senyum bercanda.

Adhit melototi temannya ini.

“Afwan, biar suasananya nggak terlalu tegang or serius gitu loh.”

Ha.. ha... ha... keduanya tertawa riang.

“Eh, tapi lu bener juga To. Kayaknya gue emang cocok jadi kiai gitu dech.”

“Tunggu dulu!”

Tito kemudian keluar kamar, namun beberapa kemudian masuk lagi dengan sepiring pisang goreng.

“Buatan Adel, lho.” Goda Tito. “Oya, lanjutin lagi. Antum belum selesai cerita khan?”


© By Sa'idurrohman 2006


Episode ~ 5

“Bukk!!” suar pintu kamar dibanting.

“Sial!!” Adhit berteriak keras. “Hari gini masih pakai jodoh – jodohan. Emangnya Siti Nurbaya? Ternyata ini yang dibawa Oma ke Bangka.” Adhit menghempaskan badannya ke kasur.

“Kesel banget. Stress...gue nggak bakal mau. Mo secantik apa kek, gue nggak bakal mau dijodohin. Enak aja. Ih!” Adhit semakin geram saja.

“Drak!” tangannya memukul meja belajar. Tapi, “Prang...” sebuah benda jatuh dari meja belajar yang goyang tersebut.

Adhit menengok ke lantai.

“Oh God! Adel. Kaset buat Adel,” buru – buru Adhit memungut kaset tersebut.

Tangannya kemudian mengambil kaset, dan memutarnya di compo. Alunan harmonisasi suara acapella mengalir membahana di sudut kamar. Adhit merebahkan tubuhnya pelan kali ini.

Dengarkanlah senandung hujan

Hujan yang kehilangan tempat berlabuh

Kini kita saksikan

Semua bencana yang terjadi

Cobalah pikirkan itu

Hanya tangan kita yang melakukannya

Lembutnya suara nasyid yang diputar Adhit terasa begitu menentramkan hati sehingga pelan – pelan Adhit merasa tenang, kemudian akhirnya terlelap dalam bunga tidur yang indah.

* * *

Malu aku pada Tuhanku

Ketika nikmat yang diberi tiada kunikmati

Ketika jalan yang kutempuh slama ini

Sungguh larut tiada bertepi

Sayup – sayup suara nasyid yang masih mengalun merdu di kamar membangunkan Adhit.

“Yah, udah jam lima. Gue kan punya janji ma Tito nih,” buru – buru Adhit bangkit menuju kamar mandi.

Lima menit kemudian adhit keluar dari kamar mandi, membuka lemari dan mengaduk – aduk baju yang ada di dalamnya.

“Ketemu!” teriak Adhit sambil membentangkan sepotong baju koko berwarna krem yang udah tampak lusuh. Satu – satunya baju koko yang dimiliki Adhit. Memang, setiap sholat Lebaran Adhit lebih suka mengenakan kemeja bermotif ketimbang baju koko. Kampungan! Pendapatnya.

“Jelek banget sih. Gue emang dah lama nggak pake nih baju. Masih muat nggak ya?” Adhit keluar kamar kemudian menuju dapur.

“Bi, tolong setrikain dong,” pinta Adhit kepada Bi Iyem, pembantu yang sudah 10 tahun kerja di rumah Adhit.

“Ha!!” Bi Iyem kaget bukan kepalang. “Mau disetrika gimana?” Bi Iyem jadi bingung melihat Koko lusuh yang mungkin saja kalau dipakai Adhit bakal nggak muat lagi.

“Lho, Bibi gimana sih. Ya disetrika pake setrika, emangnya kalo pake panci bisa?”

“Lha, sekarang panci bisa dipake buat setrika, Mas?” Bi Iyem pura – pura bego.

Adhit Cuma geleng – geleng kepala.

“Mas Adhit! Mending beli baru aja deh,” saran Bi Iyem. “Kayaknya nggak muat lagi buat Mas Adhit.”

“Adhit perlunya sekarang, bi!”

“Emang mau kemana? Biasanya juga Mas Adhit pake Kemeja khan.”

“Ih... masa’ mo ke pengajian pake kemeja. Nggak etis lah, Bi.”

“Trus gimana donk. Emang mas Adhit mau peke baju lusuh gini?”

“Kenapa sayang?” Tiba – tiba Oma muncul. “Nih, oma punya koko,” tawar Oma.

“Horray!! Oma kayak malaikat aja, dateng nyelametin Adhit.”

“Oleh – oleh dari Astrie untuk Adhit,” sela omanya.

Adhit termenung sejenak. Astrie, cewek yang bakal dijodohin Oma buat Adhit. Cewek yang selama ini mengirim pesan – pesan singkat ke handphonenya.

“Kok diam?” tanya Omanya.

“Nggak jadi deh.” Adhit mengembalikan baju koko yang dipegangnya tadi ke Oma.

“Up to you, Boy! Mo peke pa nggak?” Oma sok ngancam.

Adhit berpikir, memutar otaknya hingga akhirnya pusing. Menelpon Tito untuk bilang nggak bisa datang nggak mungkin, karena dia udah janji. Apalagi kalo bilang nggak bisa datang hanya karena nggak punya baju koko. Mau ditaruh dimana martabatnya sebagai cowok cool dan tajir.

Detik – detik terus berlalu. Adhit tetap memikirkan cara bagaimana ia bisa ikut ke pengajian bareng Tito. Dia nggak mau, hanya gara – gara nggak punya baju koko, rencana dan strateginya untuk menarik simpati Tito padanya jadi hilang atau bahkan berganti kebencian.

Setelah berpikir matang dan nggak mau terlalu lama untuk mikir, Adhit nyerah juga untuk menerima Baju Koko oleh – olehnya Astrie yang dibawa Oma.

“Oma, Kokonya buat Adhit kan?” Tanya Adhit pada Oma.

“Of course, Boy. Jadi nih?” Oma balik bertanya.

Adhit mengangguk pelan.

“Terpaksa!” teriak Adhit dalam hati.

Setelah mengambil koko dari tangan Oma, Adhit bergegas kembali ke kamar untuk ganti baju.

Sepuluh menit berlalu, Adhit keluar kamar menuju garasi mobil, mengambil motor, dan Dermmm... dengan sepeda motornya Adhit meninggalkan rumah.

* * *

“Assalamu’alaikum,” sapa Adhit, setelah memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah Tito.

“Wa’alaikum salam,” Tito yang sudah rapi keluar menyambut Adhit.

“Gimana To? Udah siap berangkat? Gue nggak telat kan?”

“Telat? Lumayan sih. Tapi nggak pa – pa. Acaranya dimulai ba’da maghrib kok.”

“So, berangkat sekarang?”

* * *

Suasana pengajian atau yang disebut Tito halaqoh, nggak membuat Adhit jenuh, walaupun awalnya Adhit merasa cuma ikut – ikutan saja, dan lumayan bete di awal pertemuan karena disuruh baca Al-Qur’an.

Dengan tertatih – tatih, Adhit selesai membaca 1 ayat, surah At - Taubah ayat 24.

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Sempet minder di awal, karena memang Adhit udah lama banget nggak menyentuh kitab Sucinya itu. Terakhir, ramadhan tahun kemaren. Itu aja, karena ada tadarusan yang diwajibkan di sekolah. Tapi, kekhawatiran kalo Tito dan teman – temannya bahkan menertawakan bacaannya yang jelek, nggak ada sama sekali. Bahkan, Adhit dibimbing untuk lebih fasih dan lancar.

Pembahasan tentang cinta, yang lebih interaktif dan menarik seperti yang disampaikan Mas Hudha, murobbinya Tito dan temen – temen, sekaligus sekarang menjadi murobbi Adhit juga, membuat Adhit merasa perlu lebih jauh mengenal Islam.

Mas Hudha juga menyampaikan bahasan tentang pergaulan antara cowok dan cewek dalam islam. Adhit yang tadinya udah mulai mengantuk ba’da Isya, melek lagi ketika dibuka sesi pertanyaan dan Adhit bertanya tentang pacaran dalam islam.

Dalam perjalanan pulang Adhit masih berbincang tentang topik yang dibahas oleh Mas Hudha dengan Tito.

“To, lu sering ikutan pengajian kayak gitu?” tanya Adhit.

“Satu pekan sekali, setiap jum’at malam, kadang juga sabtu malam.”

“Nggak bosen?” tanya Adhit lagi.

“Bosen? Alhamdulillah sih nggak. Selain materi yang disampaikan ngepas banget buat kita yang masih remaja, ane ngerasa kalo ane nggak boleh nyia – nyiain waktu muda ane dengan hal – hal yang nggak berguna. Lebih, baik ane mendalami agama kita, hitung – hitung penanaman modal akherat.”

Adhit terdiam, dan merenungi apa yang baru disampaikan Tito barusan.

“Kok diam?” sekarang Tito yang balik nanya. “Pekan depan ada halaqoh lagi. Tapi, di rumah ane. Adhit ikut kan?”

“Em..em..iya deh,” Adhit sedikit ragu. “Nggak janji lho, To,” sambungnya dalam hati.


© By Saidurrohman 2006


Episode ~ 4

Wednesday, March 21, 2007

“Apa? Oma mo dateng?” tanya Adhit pada mamanya.

“Iya, sore ini. Ntar Adhit yang jemput ke Bandara, ya,” Jawab mamanya sambil mengiris bawang merah.

Adhit menarik nafas panjang. Omanya yang nyentrik dan kolot akan datang dan menginap selama satu minggu di rumahnya. Satu hari bersama Oma saja serasa setahun bagi Adhit. Apalagi harus seminggu. Adhit tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya.

“Papa aja ya ma,” rengek Adhit.

“Papa kan sibuk, ada meeting sore ini. Adhit bawa mobil mama aja.”

“Yah....kenapa nggak mama aja sih?”

“Lho, Adhit nggak lihat mama lagi ngapain? Mama kan harus nyiapain penyambutan buat Oma.”

“Ih, pake acara di sambut – sambut segala.”

* * *

Assalamu’alaikum.

Kok blm dibls jg? Mrh ya?

Aq g b’mksd ngrjain kmu. Aq cm pngn knln ma kmu.

Aq dah ksh tau nmq, nm kmu sp? Plz dnx....

Rasa penasaran Adhit akhirnya mencapai puncak. Dipencetnya tombol hape, menghubungi nomor yang selama ini mengganggunya. Lagu Alhamdulillahnya Opick terdengar sebagai nada sambung, bukan tut..tut seperti yang biasa terdengar.

Klik sambungan diangkat.

“Hallo,” sapa Adhit.

Tidak ada yang menjawab. Yang terdengar hanya suara gemericik air.

“Hallo! Siapa sih? Ganggu banget. Kalo mau kenalan jawab donk, dan ngaku yang bener. Lu tuh sapa?” Teriak Adhit.

Sekali lagi tidak ada yang menjawab.

“Sial!” Adhit menutup telepon.

Tit...tit....hape Adhit berbunyi.

“Hallo!” teriak Adhit keras.

Astaghfirullah. Nopo to le?” terdengar suara lembut di hape.

“Eh, sorry Oma. Adhit kirain orang yang selalu ngerjain Adhit. Oma lagi dimana sekarang?”

“Oma masih di Jakarta, kira – kira satu jam lagi nyampe Pangkalpinang. Adhit gimana kabarnya?”

“Baik, Oma. Ohya, yang nganter Oma ke bandara siapa?”

“Yudhis. Mau ngomong? Nih.”

“Hallo, Yud.”

“Iya, Mas Adhit. Gimana kabarnya?”

“Nggak enak banget.”

“Nggak...”

“Shh...t. ntar Oma denger. Agak jauh dikit dari Oma, OK,” pinta Adhit.

“Yud, Oma mo ngapain ke Pangkalpinang?” tanya Adhit kemudian setelah memastikan Yudhis jauh dari Omanya.

“Kurang tau sih. Tapi, kayaknya ada hubungannya sama mas Adhit.”

“Sama gue?” Adhit heran.

“Iya Mas. Yudhis juga ragu – ragu. Yah, mudah – mudahan Oma betah di sana. He...he...he...” Yudhis tertawa.

“Enak aja. Yang bakal nggak betah itu ntar gue. Lu tau sendiri sifat Oma gimana.”

“Oke. Yudhis doain moga Mas Adhit kerasan di rumah.”

“Yud, ntar dulu. Titip ke Oma, Mas Adhit jemput di Bandara pake Avanza, mobilnya mama yang biru silver OK.”

“Insya Allah, Mas. Assalamu’alaikum,”

“Ih, sejak kapan nih anak berubah. Kayak Tito aja,” Adhit berkata dalam hati saat mendengar sepupunya yang berandal mengucapkan salam.

* * *

Hampir setengah jam Adhit menunggu di terminal kedatangan Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Meneliti satu persatu orang yang keluar dari sana setelah pesawat Sriwijaya Air mendarat. Namun, dia tidak menemukan Omanya. Dan sekarang tak ada lagi yang turun dari pesawat, pintu kedatangan pun telah tertutup.

Adhit menggerutu dan kesal. Orang yang ditunggu – tunggunya tak kunjung datang. Padahal, demi menjemput Omanya, Adhit membatalkan janjinya pada Tito untuk ikut ke Masjid Al-Furqon.

A....... terdengar suara teriakan dan ribut – ribut dari arah parkir. Adhit bergegas lari menuju tempat parkir karena mendengar teriakan wanita yang mungkin saja suara Omanya.

“Apa-apaan. Ini mobil anak saya. Kenapa bapak masuk sembarangan!” teriak wanita tua pada sorang laki – laki gemuk berkaca mata.

“Ibu yang seenaknya saja masuk mobil orang,” sahut laki – laki tersebut.

Dua orang satpam mencoba melerai adu mulut dua orang itu saat Adhit tiba di kerumunan.

“Oma! Ada apa?” tanya Adhit setelah tahu yang sedang dalam masalah adalah Omanya yang ditunggunya sedari tadi.

“Adhit,” seru Oma seraya memeluk cucunya yang jangkung.

“Ada apa pak?” tanya Adhit pada dua orang satpam yang kebetulan telah berada di situ.

“Oh, neneknya kamu. Bilang sama neneknya yang pikun. Jangan sembarangan masuk kedalam kendaraan orang lain,” laki laki gendut berkata pada Adhit.

“Maaf pak. Tapi mohon penjelasan dulu. Bapak nggak bisa menyalahkan begitu saja. Apalagi sampai menyalahkan saya. Saya kan nggak tahu apa – apa,” Adhit berkata dengan nada meminta maaf.

“Gini nak. ketika bapak ini masuk ke dalam mobilnya, ibu ini berteriak keras. Bapak ini sangat kaget melihat ada sorang ibu di bangku belakang, sedangkan dia tidak mengajak siapa – siapa untuk pulang. Eh, ternyata ibu ini salah masuk mobil,” jelas salah seorang satpam pada Adhit.

“Oma, nggak dikasih tau sama Yudhis kalo Adhit jemput pake Avanza Biru silver?” tanya Adhit.

“Lho, ini kan Avanza biru silver. Wong oma bisa baca, koq,” Oma mencoba membela diri.

“Iya Oma. Ini memang Avanza. Tapi, cokelat silver. Mobil mama yang itu. Nah, itu baru biru silver,” Adhit menunjuk salah satu Mobil di seberang jalan.

“O.........,” seru Omanya.

Semua yang ada disitu tertawa melihat wajah Oma Adhit yang memerah.

“Maaf, ya Pak. Oma saya yang salah,” Adhit mengulurkan tangannya kepada Bapak gendut sang empunya mobil.

“Nggak apa apa. Yang penting, ntar di rumah neneknya di ajari warna ya,” Bapak itu tersenyum lebar.

“Maaf ya pak,” pinta omanya Adhit seraya merunduk.

Adhit mengeluarkan barang – barang bawaan omanya yang sudah terlanjur masuk ke dalam mobil bapak gendut tadi.

* * *

Selama perjalanan pulang oma lebih banyak diam dari pada yang biasanya. Mungkin, setelah kejadian di bandara tadi oma jadi malas untuk berbicara. Adhit sebenarnya lumayan kesal. Bukan karena nggak suka kalau Oma datang. Tapi, nggak suka sikap Omanya yang over protektif sama cucu. Apalagi, kalau melihat Adhit bergaul dengan teman – temannya yang rada berandalan, Oma paling nggak suka.

Handphone oma berbunyi, tangannya kemudian merogoh tas kulit hitam yang didekap Oma sedari tadi.

“Assalamu’alaikum...,” sapa Oma.

“alaikum salam. Oma dah nyampe?” tanya suara di seberang.

“Masih di jalan. Tapi udah di Bangka. Nak Astrie udah selesai kuliah?” tanya Oma.

“Astrie? Perasaan gue kenal sama nama itu,” Adhit mengernyitkan keningnya saat Oma menyebut nama seseorang yang dirasa kenal olehnya.

“Udah, Oma.”

“Astrie jangan lupa makan siang. Ada Yudhis di rumah, kalo perlu apa – apa ngomong aja sama bi Minah, jangan lupa kasih tau Yudhis buat ngunciin semua pintu dan jendela, ya,” pesan Oma panjang lebar.

“Insya Allah, Oma.”

Telepon terputus. Ada sedikit simpul di pikiran Adhit. Ya, Astrie. Adhit merasa sudah akrab sekali dengan nama tersebut. Namun ia belum bisa mengingat dimana ia pernah mengenal nama tersebut.


© By Sa'idurrohman 2006